KALIMANTAN TIMUR — Survei ILO dan Katadata Insight Centre terhadap lebih dari 2.200 responden menemukan 79,3 persen perempuan Indonesia mengalami beban ganda. Frisian Flag Indonesia menghadirkan gerakan #TanggalMerahUntukIbu di Bandung pada 25-27 September 2026, mengajak Bapak dan keluarga berbagi peran agar Ibu punya waktu recovery.
Beban kerja rumah tangga yang ditanggung seorang Ibu sering kali tidak terlihat, padahal jumlahnya terus menumpuk setiap hari. Frisian Flag Indonesia lewat gerakan #TanggalMerahUntukIbu ingin mengubah cara keluarga memandang peran Ibu di rumah.
Acara yang digelar di Trans Studio Mall Bandung pada 25-27 September 2026 ini merupakan bagian dari semangat "Temani Pagi Penuh Arti". Melalui rangkaian talk show dan booth interaktif, para Bapak dan anggota keluarga diajak memberikan apresiasi kepada Ibu lewat tindakan sederhana yang berdampak nyata.
Data Survei ILO dan Katadata Insight Centre terhadap lebih dari 2.200 responden di Indonesia menunjukkan 79,3 persen perempuan mengaku mengalami beban ganda. Pekerjaan seperti memasak dan membersihkan rumah bahkan belum banyak dikenali sebagai bagian dari pekerjaan perawatan.
Psikolog Keluarga Ajeng Raviando menjelaskan masih banyak orang beranggapan bahwa Ibu adalah satu-satunya orang yang harus mengerjakan semua pekerjaan rumah. Padahal, pekerjaan rumah tidak bisa dibebankan pada Ibu saja.
"Pekerjaan di rumah adalah tanggung jawab seluruh anggota keluarga. Jangan lupa, ada pekerjaan yang terlihat dan lebih gampang diukur daripada yang tidak terlihat. Misalnya, mencuci atau menyiapkan sarapan itu kesannya terlihat tapi sering kali tidak dihitung sebagai pekerjaan Ibu," ungkap Ajeng dalam talk show bertajuk 'Wujudkan #TanggalMerahUntukIbu bersama #BapakBapakFrisianFlag' di Trans Studio Mall Bandung, Jawa Barat, Minggu (27/9/2026).
Ajeng menambahkan, Ibu sering terlihat tidak melakukan apa pun setelah membuat sarapan. Padahal ia mengerjakan pekerjaan rumah tangga lain setelahnya atau masih harus memikirkan menu sarapan untuk hari esok. Ketika semua itu dibebankan ke satu orang saja, beban yang dirasakan akan sangat berat.
Menurut Ajeng, tanggal merah dapat dipakai untuk me-recharge kembali energi yang hilang setelah mengurus kebutuhan keluarga. Waktu untuk diri sendiri ini bukan hanya soal berbaring atau tidak melakukan apa-apa.
"Jadi boleh dong kasih tanggal merah atau me time untuk Ibu-ibu supaya punya waktu untuk recovery. Me time bukan cuma istirahat saja ya, tapi bagaimana menciptakan waktu untuk recovery mental dan fisik supaya sumber daya tetap terjaga. Jadi, bukan hanya anggota keluarga yang terawat, tapi ibunya juga terawat," ujar Ajeng.
Marketing Director Frisian Flag Indonesia, Intan Ayu Kartika, mengatakan gerakan ini dibuat untuk memberikan kesempatan bagi Ibu untuk libur dari rutinitasnya. Salah satu caranya adalah dengan mengajak Bapak mengambil alih tugas pagi hari.
"Masih banyak Ibu yang di hari Sabtu dan Minggu enggak libur, jadi yuk kita mengadakan sesuatu. Melalui #TanggalMerahUntukIbu, Frisian Flag Kental Manis ingin mengajak keluarga, terutama Bapak-bapak, gimana kalau kita bergantian memberikan apresiasi dengan cara berbagi peran. Misalnya, di waktu pagi saat Ibu mendapatkan tanggal merahnya, Bapak menyiapkan sarapan pagi dan Ibu tinggal menikmatinya," ujar Intan.
Selain mengajak Bapak berbagi peran, rangkaian acara ini juga menyediakan booth bagi Ibu untuk menikmati me time-nya. Ibu yang mendapat tanggal merah bisa menyenangkan diri dan mendapat apresiasi langsung di lokasi acara.
Dalam kesempatan ini, #BapakBapakFrisianFlag hadir bersama istri tercinta. Mereka adalah Ananda Omesh dan Dian Ayu Lestari, Darius Sinathrya dan Donna Agnesia, serta pasangan Adam Suseno dan Inul Daratista.
Ketiganya turut ambil bagian dalam menyiapkan dan menyajikan sarapan spesial untuk istri masing-masing di pemecahan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), yaitu "Penyajian Sarapan Terbanyak untuk Istri". Momen ini menjadi simbol nyata bahwa apresiasi kepada Ibu bisa dimulai dari hal sederhana.
Melalui gerakan #TanggalMerahUntukIbu, keluarga diingatkan bahwa perhatian pada Ibu tidak harus menunggu momen besar. Berbagi peran di dapur pada pagi hari, menemani sarapan, atau memberi waktu istirahat tanpa gangguan sudah cukup membuat Ibu merasa dihargai dan terawat.