BALIKPAPAN — Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Balikpapan mencatat penurunan produksi sayur dan buah hingga 60 persen dari kondisi normal. Penyebabnya kemarau panjang yang berlangsung hampir tiga bulan dan membuat sumber air utama petani mengering.
Sekitar 60 persen petani di Balikpapan Timur dilaporkan mengalami gagal panen. Krisis air menimpa sentra pertanian sayur di Manggar, Lamaru, hingga Teritip, dengan total lahan terdampak diperkirakan mencapai 30 hektare.
Ketua Kelompok Tani Gema Tani Etam, Sugeng Wahyudi, menyebut komoditas sayur berumur pendek seperti bayam, kangkung, sawi, gambas, dan timun butuh penyiraman rutin setiap 3 hingga 5 hari. Kebutuhan itu tidak lagi bisa dipenuhi karena sumur gali mengering.
"Petani di Balikpapan Timur kesulitan air karena tidak memiliki sumur bor. Sumber air kami biasanya dari sumur gali biasa, tapi sekarang sudah kering total akibat kemarau selama hampir tiga bulan ini," ungkap Sugeng, Senin (28/9/2026).
Seluruh 25 petani yang tergabung dalam kelompoknya terdampak kekeringan. Beberapa di antaranya memilih berhenti menanam sementara waktu karena tidak ada pasokan air.
Petani yang nekat bertahan membeli tandon air berkapasitas 1.000 liter seharga Rp200.000. Langkah itu dinilai tidak efektif karena biaya operasional membengkak, sementara harga jual sayuran di pasaran rendah.
Sebagai gambaran, harga jual timun saat ini hanya berkisar Rp10.000 per kilogram. Modal petani habis hanya untuk membiayai pengairan.
"Kalau dipaksakan membeli air tandon, hasilnya tidak sebanding. Modal kami habis hanya untuk biaya pengairan saja," jelas Sugeng.
Kepala DKP3 Kota Balikpapan, Sri Wahjuningsih, menilai pengerahan pasokan air bersih dari PDAM untuk sektor pertanian tidak memungkinkan. Penyediaan air bersih bagi warga kota tetap menjadi prioritas utama.
"Penurunan produksi mencapai sekitar 60 persen dari kondisi normal akibat dampak kemarau panjang," ujar Sri Wahjuningsih.
DKP3 telah mengajukan usulan kepada Wali Kota Balikpapan untuk membangun sumur bor di beberapa titik potensial. Instansi itu juga mengusulkan pendistribusian air kepada kelompok tani yang memiliki embung dan tempat penampungan.
Menurut Sri, rencana penanganan krisis air akan direalisasikan dalam waktu dekat tanpa menunggu pengalokasian anggaran tahun depan.
Untuk menjaga kestabilan pasokan jangka pendek, DKP3 mengandalkan pangan dari daerah lain yang memiliki potensi air memadai. Komoditas buah, sayuran, dan beras didatangkan dari luar daerah karena produksi lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan warga.
"Komoditas buah, sayuran, dan beras saat ini datangkan dari luar daerah karena produksi lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan warga," tambah Sri.
Kerja sama antardaerah penghasil tetap berjalan lewat peran aktif distributor pangan. DKP3 juga rutin menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) tiga kali sepekan untuk menjaga keterjangkauan harga di tingkat konsumen.
Sugeng berharap Pemkot Balikpapan maupun Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur segera menyalurkan bantuan infrastruktur pengairan, khususnya sumur bor. Kelompoknya sempat mengajukan bantuan CSR ke BUMN, tetapi belum mendapat respons hingga kini.