KALIMANTAN TIMUR — Ekspor minyak mentah dari Timur Tengah kembali mendekati level sebelum perang setelah produsen utama kawasan itu mengalihkan pengiriman melalui jaringan pipa, pelabuhan alternatif, dan transfer antarkapal. Analis J.P. Morgan mencatat rata-rata ekspor 10 hari terakhir mencapai 17,5 juta barel per hari, atau 98 persen dari level sebelum konflik AS-Iran meletus.
Pemulihan arus minyak itu terjadi setelah Selat Hormuz, jalur pelayaran paling strategis bagi eksportir Teluk, mengalami penurunan tajam sejak perang AS-Iran dimulai pada 28 Februari. Arab Saudi sebagai eksportir minyak terbesar dunia bersama Uni Emirat Arab dan produsen Teluk lainnya terpaksa mencari rute yang tidak melewati selat tersebut.
Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak mentah dari produsen kawasan Teluk mencapai 19 juta barel per hari hingga Senin (28/9). Minyak mentah menyumbang hampir 90 persen dari total pemulihan ekspor minyak kawasan pada September, terutama ditopang peningkatan pengiriman melalui Selat Hormuz.
Jaringan pipa menjadi tulang punggung pengalihan pengiriman. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memanfaatkan jalur pipa yang bermuara ke pelabuhan di luar Selat Hormuz, sementara sebagian kargo dialihkan lewat transfer antarkapal di perairan yang lebih aman.
Strategi itu tidak sepenuhnya mulus. Serangan terhadap pipa minyak penting Arab Saudi dan ancaman kelompok militan yang berafiliasi dengan Iran terhadap kapal di koridor pelayaran lain sempat mengganggu sebagian rute alternatif. Meski begitu, produsen Teluk dinilai berhasil mempertahankan arus ekspor lewat kombinasi jalur darat dan laut tersebut.
Selat Hormuz tetap menjadi simpul utama pemulihan. Peningkatan pengiriman melalui jalur ini menjadi pendorong terbesar kenaikan ekspor minyak kawasan pada September, meski volume melalui selat tersebut belum sepenuhnya kembali ke level sebelum perang.
Bagi pasar minyak global, pemulihan ekspor Teluk mendekati level normal mengurangi tekanan pasokan yang sempat mendorong harga. Namun risiko geopolitik di sekitar Selat Hormuz belum hilang sepenuhnya, terutama jika ketegangan AS-Iran kembali memanas.
Pulihnya ekspor dari kawasan Teluk memberi ruang bagi importir minyak Asia, termasuk Indonesia, untuk mengatur ulang strategi pengadaan. Pasokan yang lebih lancar berpotensi menekan premi risiko pada harga minyak mentah dunia.
Analis J.P. Morgan dalam laporan yang dikutip WSJ menyebut rata-rata ekspor minyak mentah dari Timur Tengah selama 10 hari telah pulih menjadi 17,5 juta barel per hari, atau 98 persen dari level sebelum perang. Angka itu menandakan produsen Teluk mampu beradaptasi lebih cepat dari perkiraan awal pasar.