Danantara Buka Opsi Impor KRL Jepang, INKA Jadi Sorotan

Penulis: Endra Sanjaya  •  Jumat, 02 Oktober 2026 | 14:20:31 WIB
Danantara Indonesia membuka opsi impor KRL dari Jepang untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan transportasi publik nasional.

KALIMANTAN TIMUR — Danantara Indonesia membuka opsi impor kereta rel listrik (KRL) dari Jepang untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan transportasi publik nasional. Rencana itu akan dibahas bersama Menteri Perhubungan pada Jumat (2/10/2026), di tengah keterbatasan kapasitas produksi PT Industri Kereta Api (INKA).

Paragraf pembuka: Keputusan impor KRL dari Jepang akan dipertimbangkan dengan melihat manfaat dan biaya, serta kebutuhan percepatan transportasi publik. Hal itu disampaikan COO Danantara Indonesia sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria, di Jakarta, Jumat (2/10/2026).

Manfaat dan Biaya Jadi Pertimbangan

Dony menegaskan pembahasan dengan Menteri Perhubungan telah dijadwalkan pada hari yang sama. Menurut dia, pemerintah tidak bisa hanya melihat aspek penguatan industri dalam negeri tanpa menghitung kebutuhan riil di lapangan.

"Hari ini harusnya saya ada pertemuan dengan pihak Menhub untuk berkomunikasi segala macam. Nanti kan akan ada penjelasannya. Bagaimana kan kita mesti melihat cost and benefit. Keuntungannya apa, apa yang kita dapatkan dari situ, karena kan percepatan daripada transportasi publik kita juga kan. Tapi nanti akan kita diskusikan dengan Pak Menhub," kata Dony.

Pilihan impor muncul bukan tanpa alasan. Pemerintah tengah mendorong elektrifikasi sejumlah jalur strategis, mulai dari Jakarta-Cikampek, Jakarta-Sukabumi, hingga Jakarta-Merak. Kebutuhan armada KRL untuk jalur-jalur itu tidak bisa menunggu terlalu lama.

Kapasitas INKA Jadi Kendala

Meski membuka opsi impor, Dony memastikan pemerintah tetap mendorong penguatan produksi kereta di dalam negeri melalui INKA. Hanya saja, kapasitas produksi perusahaan pelat merah itu dinilai masih terbatas.

"Proses transformasi INKA ini kan sedang berjalan ya. Tapi kapasitas produksi mereka kan juga sangat terbatas. Jadi ada pilihan-pilihan yang harus kita buat. Karena satu kita akan mendorong adanya nanti elektrifikasi Jakarta-Cikampek, Jakarta-Sukabumi, dan juga Jakarta-Merak," ujar Dony.

Keterbatasan itu tidak lepas dari kondisi keuangan INKA. Dony menyebut posisi ekuitas perusahaan saat ini negatif dan terdapat pinjaman yang dinilai belum berkelanjutan. Kondisi tersebut menjadi bagian dari proses transformasi yang tengah berjalan.

"INKA itu sekarang kan posisinya saya sudah sampaikan bahwa equity-nya negatif. Kemudian ada unsustain loan-nya. Makanya ini bagian daripada proses transformasi yang juga harus kita lakukan," ujar dia.

Dampak ke Penumpang dan Industri

Bagi penumpang commuter di Jabodetabek dan sekitarnya, keputusan ini menentukan seberapa cepat penambahan armada KRL bisa direalisasikan. Jalur Jakarta-Cikampek dan Jakarta-Sukabumi selama ini dikenal padat, terutama pada jam sibuk pagi dan sore.

Di sisi lain, impor KRL dari Jepang berpotensi menekan order domestik ke INKA. Pemerintah berada di posisi harus menyeimbangkan percepatan layanan publik dengan upaya menyelamatkan industri kereta dalam negeri yang tengah sakit.

Suntikan modal ke INKA disebut Dony sebagai salah satu opsi yang masih dikaji. Namun, keputusan akhirnya akan bergantung pada hasil pembahasan dengan Kementerian Perhubungan dan perhitungan keuangan perusahaan.

Penutup: Langkah Danantara membuka opsi impor KRL Jepang menandai tarik-menarik antara kebutuhan percepatan transportasi publik dan ambisi membangun kemandirian industri kereta nasional. Hasil pembahasan dengan Menhub akan menentukan arah kebijakan pembelian armada KRL dalam beberapa bulan ke depan.

Reporter: Endra Sanjaya
Sumber: idxchannel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top