Badan Riset dan Inovasi Daerah Kalimantan Timur mengungkap potensi ekonomi karbon biru dari padang lamun di sejumlah lokasi penelitian mencapai Rp5,78 miliar dari perdagangan karbon. Nilai itu berasal dari simpanan 1.157,51 ton karbon jika dikonversi dengan harga perdagangan karbon yang kini mencapai Rp5 juta per ton. Riset bertajuk "Restorasi Lamun sebagai Upaya Peningkatan Carbon Storage di Provinsi Kaltim" dilakukan sejak 2024 hingga 2026 bersama Universitas Mulawarman.
SAMARINDA — Koordinator Tim Periset Karbon Biru, Yekhali Auliansyah, menyebut nilai ekonomi karbon yang tersimpan di lamun sejauh ini belum sepenuhnya dihitung dan dimanfaatkan secara optimal. Temuan riset menunjukkan sedimen menyimpan karbon jauh lebih besar dibandingkan bagian tanaman lamun.
Stok karbon pada sedimen di Pulau Miang Kecil, Kabupaten Kutai Timur, mencapai 383,78 ton karbon per hektare (C per ha). Angka itu menjadi yang tertinggi dalam riset ini, disusul wilayah Kutai Kartanegara dengan 381,13 ton C per ha.
Sementara stok karbon pada tegakan tanaman tertinggi tercatat di Pulau Malahing sebesar 4,19 ton C per ha dan Pulau Miang Kecil 2,18 ton C per ha. "Temuan ini menegaskan peran sedimen sebagai gudang karbon utama ekosistem lamun," kata Auliansyah.
Di Bontang, tepatnya di perairan Malahing dengan luas padang lamun 802 hektare, tim memperkirakan simpanan karbon mencapai 209 ton. Estimasi nilai ekonominya hingga Rp17 juta per ton karbon per hektare.
Kaltim secara keseluruhan memiliki 7.225,6 hektare padang lamun yang tersebar di Berau, Kutai Timur, Bontang, Kutai Kartanegara, dan Balikpapan, khususnya pada lokasi yang dilakukan penelitian.
Kekayaan hayati padang lamun Kaltim tergolong luar biasa. Dari 13 jenis lamun yang ada di Indonesia, 10 jenis ditemukan di perairan Kaltim, antara lain Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, dan Halophila ovalis.
Riset ini merupakan kerja sama antara Brida Kaltim, Yekhali, dan Universitas Mulawarman yang dilakukan secara berkesinambungan sejak 2024 hingga 2026.
Auliansyah berharap potensi besar karbon biru ini dapat dikelola secara berkelanjutan. "Kami berharap potensi besar ini dapat dikelola secara berkelanjutan, sehingga nilai ekonomi karbon biru mampu memberi manfaat langsung bagi masyarakat pesisir sekaligus menjaga ekosistem tetap lestari," ujarnya.
Nilai ekonomi karbon biru dari lamun berpeluang menjadi sumber pendanaan baru bagi daerah pesisir Kaltim jika dihitung dan diperdagangkan secara optimal.