SAMARINDA — Penyelenggaraan BIFF 2026 menyasar pertumbuhan sektor industri fashion di Kaltim dari hulu ke hilir. Rangkaian acara melibatkan desainer, model, perajin, penenun, hingga pembatik yang berada dalam rantai produksi fashion.
Business matching menjadi salah satu konsep utama festival ini. Pelaku UMKM dan perajin Kaltim dipertemukan langsung dengan mitra berbasis di Melbourne untuk menjajaki produk yang berpotensi dijual di pasar Australia.
Total sekitar 36 desainer ambil bagian dalam seluruh rangkaian BIFF 2026. Mereka tidak hanya berasal dari Kaltim, tetapi juga dari sejumlah kota seperti Jakarta dan Bali.
Dari sisi internasional, keterlibatan mencakup sejumlah negara, di antaranya Australia, Filipina, dan Kenya. Model internasional yang terlibat disebut cukup banyak.
Project Director BIFF 2026 Anas Maghfur mengatakan penyelenggaraan festival ditujukan untuk menghidupkan industri fashion di Kaltim agar tidak berhenti pada kegiatan peragaan busana.
"Target kami dengan penyelenggaraan BIFF ini, kami ingin menghidupkan fashion supaya lebih semarak lagi di Kaltim, terutama di sektor industrinya. Jadi bukan hanya peragaan busananya, tapi sektor industrinya juga akan tumbuh dan berkembang," ujarnya kepada awak media, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Anas menyebut pertumbuhan industri fashion diharapkan ikut menggerakkan UMKM dan perajin yang terlibat dalam produksi karya. Kelompok yang dimaksud termasuk penenun dan pembatik.
"Harapan kami dengan adanya event seperti ini, UMKM juga tumbuh, pengrajin, penenun, pembatik dan lain-lain itu juga ikut tumbuh," ujarnya.
Menurut Anas, keterlibatan dalam BIFF mencakup pelaku industri dari hulu sampai hilir. Selain perajin, festival melibatkan model dan desainer dari sejumlah daerah serta negara.
"Untuk yang terlibat di kegiatan ini memang ada pengrajin dari hulu sampai hilir. Terus untuk model juga, dari internasional juga cukup banyak. Desainer juga tidak hanya dari Kaltim, tapi dari beberapa kota," jelasnya.
Anas berharap perkembangan ekosistem fashion membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk UMKM dan perajin Kaltim. Produk lokal dinilai tidak perlu berhenti di pasar domestik.
"Harapannya, UMKM bisa tidak cuma produknya hanya dijual di Indonesia saja, tapi bisa sampai ke pasar internasional," katanya.
Upaya memperkenalkan produk lokal ke luar negeri dilakukan lewat business matching. Salah satu mitra yang terlibat berbasis di Melbourne dan dipertemukan dengan pelaku UMKM serta perajin Kaltim.
"Jadi ketemu dengan para pengrajin yang ada di Kaltim, para UKM juga, jadi mana-mana produk yang potensial untuk dijual di Melbourne," ucapnya.
BIFF 2026 merupakan kolaborasi Pandawi Wastra Borneo dari Melbourne, IMTB, dan Javabor dengan Dekranasda Provinsi Kaltim. Selain fashion show, rangkaian acara masih berlanjut dengan dua sesi peragaan busana pada hari yang sama.
Festival ini diarahkan menjadi agenda tahunan. Anas mengakui penyelenggaraan perdana masih memiliki keterbatasan dari sisi persiapan.
"Karena perdana, mungkin dari sisi persiapan juga masih belum bisa maksimal. Tapi ya kita semaksimal mungkin, harapannya tahun depan kita akan selangkah lagi lebih besar lagi," pungkasnya.