KALIMANTAN TIMUR — Seorang gamer di Jerman tidak bisa mengakses Valorant setelah memasang prosesor Ryzen 7 5800X3D bekas yang dibeli lewat platform iklan baris Kleinanzeigen. Riot Support menyatakan chip tersebut masuk daftar hitam Vanguard sejak 12 Agustus, sementara pembeli baru membelinya pada 21 September 2026.
Pembeli CPU tersebut mengaku tidak mendapat peringatan apa pun saat transaksi. Prosesor itu berfungsi normal untuk aktivitas PC sehari-hari, dan masalah baru muncul ketika Valorant dijalankan di sistem yang memakai chip tersebut.
Ryzen 7 5800X3D itu dibeli melalui Kleinanzeigen, platform iklan baris asal Jerman. Menurut keterangan Riot Support, hardware tersebut sudah masuk daftar hitam pada 12 Agustus, jauh sebelum pembeli mengakuisisinya pada 21 September 2026.
Yang membuat kasus ini rumit, mengganti CPU kembali ke prosesor lama tidak menyelesaikan masalah. Dalam komunikasi lanjutan dengan Riot, pembeli menyebut motherboard dan media penyimpanan di PC-nya juga ikut teridentifikasi dalam sistem blokir Vanguard.
Riot dilaporkan menolak menghapus pembatasan hardware tersebut secara manual. Artinya, pembeli yang tidak tahu apa-apa soal riwayat chip itu harus menanggung konsekuensinya.
Vanguard bisa mengaitkan satu unit Ryzen 7 5800X3D dengan pemilik sebelumnya. Wccftech mencatat identitas hardware CPU konvensional umumnya hanya mengidentifikasi model atau keluarga prosesor, bukan setiap chip fisik secara unik.
Riot belum menjelaskan mekanisme yang dipakai dalam kasus ini. Belum bisa dipastikan nomor seri CPU sendirilah yang jadi dasar pemblokiran. Ada kemungkinan sistem memakai kombinasi fingerprint hardware atau identifier lain, termasuk informasi yang berkaitan dengan TPM.
Riot memang punya sistem hardware ban sebagai bagian dari solusi Vanguard terhadap cheater. Dalam penjelasan resminya, Riot menyebut Vanguard dapat menerapkan pembatasan berdasarkan karakteristik keamanan dan hardware tertentu.
Sistem anti-cheat tersebut juga menggunakan driver kernel untuk mendeteksi serta mencegah berbagai metode kecurangan. Pendekatan ini efektif membatasi cheater, tapi ikut menyeret pembeli hardware bekas yang tidak terlibat pelanggaran apa pun.
Kasus semacam ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi pasar komponen bekas. Pembeli berisiko kena peluru nyasar, bahkan pemblokiran bisa menjalar ke semua hardware yang terpasang di PC mereka.
Situasi makin sulit karena developer Valorant tidak mau ambil pusing membantu korban memperbaiki masalah semacam ini. Tidak ada mekanisme banding yang jelas untuk pembeli yang terjebak hardware ban orang lain.
Bagi pengguna di Indonesia, risiko serupa berlaku ketika membeli CPU, motherboard, atau SSD bekas dari marketplace maupun forum jual-beli. Tidak ada cara mudah memverifikasi apakah sebuah komponen pernah dipakai untuk curang sebelum transaksi terjadi.