BALIKPAPAN — Pelatihan menyasar delapan peserta tunarungu di Kota Balikpapan. Kepala Cabang Laznas Nurul Hayat Balikpapan, Machfuddin Al-Adib, menyebut jumlah peserta sengaja dibatasi agar pendampingan berjalan maksimal.
Materi yang diberikan mencakup keterampilan dasar sebagai barista. Peserta juga dikenalkan pada pekerjaan yang selama ini lekat dengan aktivitas bisnis kafe.
Mengapa Peserta Dibatasi Delapan Orang
Machfuddin menjelaskan pembatasan jumlah peserta bukan tanpa alasan. Delapan orang dinilai ideal supaya setiap peserta mendapat perhatian penuh dari pelatih.
"Pesertanya adalah teman-teman tunarungu di Kota Balikpapan. Kita batasi delapan orang supaya proses pelatihannya lebih fokus dan mereka bisa mendapatkan pendampingan secara maksimal," kata Machfuddin.
Pendekatan ini berbeda dari pelatihan massal yang kerap mengorbankan kualitas pendampingan. Dengan kelompok kecil, instruktur bisa menyesuaikan metode komunikasi bagi peserta tunarungu.
Peluang Kerja Tak Berhenti di Profesi Barista
Kemampuan peserta dinilai bisa berkembang ke posisi lain di lingkungan usaha. Machfuddin menyebut posisi kasir hingga pekerjaan pendukung lain masuk dalam pertimbangan.
Hal ini menunjukkan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas dapat disesuaikan dengan kemampuan. Bukan semata-mata melihat keterbatasan yang dimiliki.
Sejumlah kafe di Balikpapan telah menyatakan kesiapan membuka kesempatan kerja bagi peserta pelatihan. Machfuddin menyinggung julukan yang pernah viral soal kota ini.
"Kita tahu di Kota Balikpapan kafe-kafe cukup banyak. Bahkan pernah viral Balikpapan disebut sebagai 'Kota Kafe'. Ini menjadi peluang bagi teman-teman untuk berjuang mencari pekerjaan," ujarnya.
Modal Peserta untuk Masuk Dunia Kerja Nyata
Bagi peserta, keterampilan yang diperoleh menjadi modal untuk melangkah lebih jauh. Tujuan akhirnya bukan hanya mampu membuat dan menyajikan minuman.
Bekal tersebut diharapkan mengantar mereka ke lingkungan kerja yang nyata. Dari balik mesin espresso dan aktivitas kedai kopi, ada harapan penyandang tunarungu tidak hanya menjadi peserta pelatihan.
Machfuddin berharap dukungan terhadap penyandang disabilitas tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Kolaborasi antara lembaga sosial dan dunia usaha dinilai penting agar keterampilan yang sudah diberikan benar-benar berujung pada kesempatan kerja.
Ia juga mendorong semakin banyak pelaku usaha memberikan ruang bagi penyandang disabilitas. Bukan hanya soal membuka lowongan, tetapi juga membangun lingkungan kerja yang memberi kesempatan setiap orang berkembang sesuai kemampuannya.
Pelatihan yang digelar Kamis lalu itu menjadi salah satu langkah mendorong ekosistem kerja lebih inklusif di Balikpapan.