KALIMANTAN TIMUR — Nilai tukar rial Iran merosot ke rekor terendah sepanjang sejarah, menembus 2,5 juta rial per dolar AS di pasar bebas Teheran pada perdagangan Selasa (6/10/2026). Pelemahan mata uang ini terjadi bersamaan dengan laporan firma analisis Kpler yang menyebut terminal ekspor utama Iran tidak memuat satu barel minyak pun ke kapal tanker selama sebulan terakhir, fenomena pertama sejak Revolusi Islam 1979.
"Untuk pertama kalinya sejak 1979, Iran sama sekali tidak memuat minyak di terminal ekspornya," ujar Falakshahi.
Blokade US Navy Lumpuhkan Jalur Ekspor Minyak Iran
Blokade ketat Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) dilaporkan telah melumpuhkan ekspor minyak mentah Iran hingga mendekati angka nol. Kondisi ini memukul salah satu sumber devisa utama negara tersebut dan memperparah tekanan terhadap perekonomian Iran yang sudah rapuh akibat sanksi internasional berkepanjangan.
Sebelumnya, Iran masih mampu menyalurkan minyak ke pasar gelap melalui berbagai jalur alternatif. Namun operasi pengawasan ketat di perairan strategis membuat kapal-kapal tanker enggan mengambil risiko berlayar ke terminal Iran. Alhasil, pembeli utama seperti China pun kesulitan menerima pasokan.
Rial Cetak Rekor Terburuk dalam Sejarah
Di pasar bebas Teheran, rial jatuh menembus 2,5 juta per dolar AS. Angka itu memecahkan rekor buruk sebelumnya sebesar 2,2 juta rial per dolar yang baru tercatat pada awal September lalu. Artinya, dalam hitungan pekan, mata uang Iran kehilangan sekitar 13% nilainya terhadap dolar AS.
Pelemahan ini memukul daya beli masyarakat Iran secara langsung. Harga barang impor melonjak, sementara upah dan pendapatan domestik tidak mampu mengejar laju depresiasi. Warga Teheran yang hendak membeli kebutuhan pokok harus merogoh kocek jauh lebih dalam dibanding beberapa bulan lalu.
Pemicu Krisis Keuangan yang Lebih Luas
Hilangnya pemasukan dari ekspor minyak membuat kas negara terkuras. Iran kehilangan sumber devisa terbesarnya, sementara kebutuhan belanja pemerintah tetap tinggi. Situasi ini membuka jalan bagi krisis keuangan yang lebih luas jika tidak ada intervensi.
Bank sentral Iran menghadapi dilema. Menaikkan suku bunga bisa menahan laju rial, tetapi berisiko mencekik sektor riil yang sudah lesu. Sebaliknya, membiarkan rial melemah akan memicu inflasi lebih tinggi dan memperburuk keresahan sosial.
Dampak ke Pasar Minyak Global
Hilangnya pasokan Iran dari pasar global turut memengaruhi keseimbangan harga minyak dunia. Negara-negara produsen lain, terutama di kawasan Teluk, berpotensi mengambil alih pangsa pasar yang ditinggalkan Iran. Namun, kekhawatiran atas meluasnya konflik di Timur Tengah membuat harga minyak tetap rentan volatil.
Bagi pelaku pasar, sinyal krisis Iran menjadi faktor risiko yang perlu dicermati. Setiap eskalasi ketegangan di Selat Hormuz berpotensi mengganggu pasokan minyak mentah dunia dan mendorong harga energi naik lebih tinggi.