BALIKPAPAN — Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas'ud, meninjau langsung kawasan PT Kaltim Kariangau Terminal (KKT) Balikpapan pada Kamis (6/8/2026). Dalam kunjungan itu, ia mengumumkan rencana pembangunan jalan sepanjang 2,1 kilometer untuk menghubungkan beberapa perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut. Gubernur menilai aksesibilitas yang baik akan meningkatkan operasional perusahaan dan menarik minat investor baru.
Dorong Konektivitas dan Investasi
Rudy Mas'ud menjelaskan, pembangunan jalan tersebut menjadi prioritas karena akses menuju kawasan KKT saat ini dinilai terbatas. “Dengan adanya jalan tol ini (Tol Pulau Balang), semua akses tertutup, kecuali jalan Pemprov ini,” ujarnya. Ia memastikan dukungan penuh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim dalam penyiapan infrastruktur agar kawasan industri siap dikunjungi investor.
Dalam waktu dekat, sejumlah investor dari berbagai sektor usaha dijadwalkan berkunjung ke lokasi untuk melihat kesiapan pembangunan jalan tersebut. “Kami ingin memastikan jalan dan kawasan ini benar-benar siap untuk dikunjungi investor,” kata Rudy, didampingi Plt Kepala Dinas PUPR Kaltim, Irhamsyah. Terkait spesifikasi konstruksi, ia menyebut jenis perkerasan akan disesuaikan dengan kebutuhan operasional di masa mendatang.
Target Peningkatan PAD dan Serapan Tenaga Kerja
Gubernur berharap perusahaan yang beroperasi di kawasan itu, seperti PT Semen Indonesia, Wilmar Group, MMP, dan Wahana, dapat menjalin kerja sama dengan badan usaha milik daerah (BUMD) Pemprov Kaltim. Optimalisasi aset daerah tersebut diyakini mampu meningkatkan PAD secara signifikan. Perusahaan di kawasan KKT bergerak di bidang perdagangan semen, minyak, dan industri nikel.
Rudy mencontohkan potensi besar PT Semen Indonesia yang volume produksinya akan meningkat drastis. “Di Sungai Mahakam, Kota Samarinda, kapal besar memiliki keterbatasan untuk masuk. Sementara di Teluk Balikpapan kapal-kapal besar dapat masuk, sehingga volumenya tentu jauh lebih besar. Distribusi menjadi lebih efektif dan efisien,” jelasnya.
Selain itu, industri pengolahan nikel di kawasan tersebut juga dinilai mampu menyerap banyak tenaga kerja. Saat ini, dua tungku smelter yang beroperasi mempekerjakan sekitar 1.200 orang. “Jika satu tungku lagi beroperasi, tenaga kerjanya bisa mencapai 2.000 orang. Serapan tenaga kerja juga sangat besar di sini,” tutup Gubernur.