KALIMANTAN TIMUR — Pemerintah menekan importir untuk segera merealisasikan sisa kuota impor daging sapi yang belum diserap. Budi Santoso mengungkapkan, sebagian importir masih mencari sumber pasokan alternatif dengan biaya pengadaan lebih murah setelah biaya angkut kapal melonjak.
"Memang salah satunya faktor biaya impor yang naik. Jadi sekarang sebagian (importir) lagi nyari produk daging sapi yang tentu biayanya enggak terlalu mahal," ujar Budi dalam konferensi pers di Kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Rabu (12/8). Biaya Logistik Naik, Importir Cari Pemasok Baru
Kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi pemicu utama membengkaknya ongkos kirim. Budi mengakui belum memiliki angka pasti besaran kenaikan biaya logistik tersebut, namun menegaskan dampaknya langsung terasa pada tarif transportasi kapal pengangkut daging dari negara pemasok.
"Karena biaya logistik ya, karena harga minyak ini kan dampaknya biaya logistik, biaya transportasi kapal itu kan naik. Makanya akan cari misalnya produk-produk mungkin yang lebih dekat atau bagaimana," terang Budi.
Selama ini Australia menjadi pemasok utama daging sapi impor ke Indonesia. Kini pemerintah mendorong importir mencari negara asal alternatif yang menawarkan biaya lebih kompetitif. Selain daging sapi, realisasi impor daging kerbau yang dinilai lebih murah juga baru mencapai kurang dari 50 persen kuota.
"Kita sebenarnya ada beberapa pilihan (negara asal impor daging sapi), tapi memang selama ini kebanyakan dari Australia. Kita sedang mencoba dari beberapa negara yang bisa memasok," tutur Budi.
Pemerintah berencana menggelar rapat lanjutan dengan para importir untuk mengidentifikasi kendala lain yang menghambat percepatan realisasi impor. Harga di Daerah Jauh di Atas HAP
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rata-rata harga daging sapi nasional naik 0,54 persen dibandingkan Juli 2026. Kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) tercatat terjadi di 56 kabupaten/kota.
Beberapa daerah mencatat harga jauh lebih tinggi dari rata-rata nasional. Berikut rinciannya:
- Kabupaten Kubu Raya: Rp 165 ribu per kg, naik 7,51 persen secara bulanan dan berada 17,86 persen di atas HAP. - Kabupaten Melawi: Rp 180 ribu per kg, atau 28,57 persen di atas HAP, dengan IPH naik 4,68 persen. - Kabupaten Puncak Jaya, Pegunungan Bintang, dan Nabire: harga mencapai Rp 200 ribu per kg.
Sementara itu, harga minyak Brent pada Rabu (12/8) pagi tercatat naik 0,81 persen menjadi US$ 89,63 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,85 persen ke level US$ 83,91 per barel.